Anggelaw.Real
Bayi GoCrot
Katanya ayah adalah cinta pertama putrinya?
Bagiku kau adalah musuh bebuyutan yang kutemui di setiap hembusan napas.
Jika Tuhan memanggilku di pengadilan terakhir,
Dan bertanya, "Mengapa maafmu tak kunjung meluas nak?"
Akan kutunjukkan telapak tanganku yang penuh nanah,
Akan kubuka mulutku yang penuh dengan sisa-sisa harga diri yang di kunyah.
Bagaimana bisa aku memaafkan pembunuh masa depanku?
Kau mematikan cahaya sebelum aku sempat melihat fajar.
Aku menjadi pelacur karena ulahnya,
Karena baginya, aku hanyalah sebuah kesalahan teknis,
Bukan sebuah tanggung jawab, apalagi sebuah berkat.
Siapa lelaki yang akan membukakan pintu rumahnya?
Sedang kau, pemilik darahku, tak pernah menganggapku ada.
Siapa lelaki yang akan mencium keningku dengan hormat?
Sedang kau adalah orang yang menginjak-injak martabatku.
Lelaki boleh kehilangan keperjakaan, dan dianggap "berpengalaman".
Perempuan kehilangan keperawanan, dan dianggap "barang bekas" yang dibuang ke selokan.
Lelaki "nakal" sebelum menikah? Oh, itu namanya "proses pendewasaan".
Perempuan tidak perawan? Wah, itu namanya "kiamat moralitas"
Lucu sekali melihat mereka datang dengan sejarah selangkangan yang lebih panjang dari daftar belanjaan,
Tapi menuntut istri yang lebih suci dari air zam-zam.
Mereka berselingkuh dan bilang, "Ini hanya khilaf, sayang."
Padahal itu sebenarnya adalah bakat alami yang mereka pelajari dari sosok-sosok sepertimu, Ayah.
"Kami bisa menerima masa lalu apa saja, asalkan bukan jual diri."
Oh, sungguh mulia! Terima kasih atas kedermawanan moral kalian!
Kalian mau menerima mantan pencuri, mantan pembohong, atau mantan pembunuh?
Tapi kalian merasa terlalu suci untuk perempuan yang tubuhnya menjadi saksi bisu kegagalan laki-laki dalam melindungi keluarganya?
Bagi mereka, perempuan boleh punya masa lalu apa saja,
Kecuali mereka yang menjual diri
Padahal, mereka tidak tahu bahwa di balik setiap transaksi,
Ada sosok ayah yang lebih dulu menjual jiwa putrinya pada kehancuran.
Kita adalah dua kutub yang saling menolak,
Antara hitam yang pekat dan putih yang tersedak.
Darah boleh sama, tapi jiwa kita adalah perang,
Aku berdiri di cahaya, kau bersembunyi di balik bayang.
Kau, sang penjahat yang merobek hati wanita,
Menabur luka, memanen air mata dalam dusta.
Aku? Aku adalah penjaga yang setia pada satu rasa,
Menjaga hati lelaki seolah itu adalah nyawa.
Kau bercumbu dengan asap, merusak raga dengan sengaja,
Aku memilih sehat, demi menua dan mendonorkan raga.
Kau adalah tangan yang selalu menadah dan meminta,
Aku adalah punggung yang memikul, tangan yang memberi cinta.
Kau lari dari tanggung jawab seperti pengecut yang kalah,
Aku berdiri tegak.
Sialan, semesta ini memang suka melucu,
Memberi kita golongan darah yang menyatu.
Tapi dengarlah, hai semesta yang sedang mengejek:
Jika aku sekarat, biarkan aku mencari darah di tempat yang jauh.
Dan jika kau yang butuh, jangan harap setetes pun dariku akan luruh.
Jangan tanya mengapa seorang putri membenci ayahnya,
Tanyalah bagaimana sang ayah merobek martabat putrinya.
Aku bisa menerima segala perih, segala getir yang nyata,
Tapi menjadi pelacur? Itu adalah lubang hitam tanpa kata.
Judul itu... "Aku Menjadi Pelacur Karena Ayahku"?
Seandainya kehormatanku tak kau gadaikan dalam kelam,
Mungkin masih ada ruang untuk maaf di dalam malam.
Dunia mungkin menuntutku menjadi suci,
Menyuruhku memaafkan demi ketenangan hati.
Tapi aku berdoa pada semesta: jangan jadikan aku orang suci itu.
Biarkan dendam ini tetap membara, tetap beku.
Untuk semua orang, pintu maafku telah
terbuka lebar,
Tapi untukmu, pintunya telah kutebas, hancur terbakar.
Bagiku kau adalah musuh bebuyutan yang kutemui di setiap hembusan napas.
Jika Tuhan memanggilku di pengadilan terakhir,
Dan bertanya, "Mengapa maafmu tak kunjung meluas nak?"
Akan kutunjukkan telapak tanganku yang penuh nanah,
Akan kubuka mulutku yang penuh dengan sisa-sisa harga diri yang di kunyah.
Bagaimana bisa aku memaafkan pembunuh masa depanku?
Kau mematikan cahaya sebelum aku sempat melihat fajar.
Aku menjadi pelacur karena ulahnya,
Karena baginya, aku hanyalah sebuah kesalahan teknis,
Bukan sebuah tanggung jawab, apalagi sebuah berkat.
Siapa lelaki yang akan membukakan pintu rumahnya?
Sedang kau, pemilik darahku, tak pernah menganggapku ada.
Siapa lelaki yang akan mencium keningku dengan hormat?
Sedang kau adalah orang yang menginjak-injak martabatku.
Lelaki boleh kehilangan keperjakaan, dan dianggap "berpengalaman".
Perempuan kehilangan keperawanan, dan dianggap "barang bekas" yang dibuang ke selokan.
Lelaki "nakal" sebelum menikah? Oh, itu namanya "proses pendewasaan".
Perempuan tidak perawan? Wah, itu namanya "kiamat moralitas"
Lucu sekali melihat mereka datang dengan sejarah selangkangan yang lebih panjang dari daftar belanjaan,
Tapi menuntut istri yang lebih suci dari air zam-zam.
Mereka berselingkuh dan bilang, "Ini hanya khilaf, sayang."
Padahal itu sebenarnya adalah bakat alami yang mereka pelajari dari sosok-sosok sepertimu, Ayah.
"Kami bisa menerima masa lalu apa saja, asalkan bukan jual diri."
Oh, sungguh mulia! Terima kasih atas kedermawanan moral kalian!
Kalian mau menerima mantan pencuri, mantan pembohong, atau mantan pembunuh?
Tapi kalian merasa terlalu suci untuk perempuan yang tubuhnya menjadi saksi bisu kegagalan laki-laki dalam melindungi keluarganya?
Bagi mereka, perempuan boleh punya masa lalu apa saja,
Kecuali mereka yang menjual diri
Padahal, mereka tidak tahu bahwa di balik setiap transaksi,
Ada sosok ayah yang lebih dulu menjual jiwa putrinya pada kehancuran.
Kita adalah dua kutub yang saling menolak,
Antara hitam yang pekat dan putih yang tersedak.
Darah boleh sama, tapi jiwa kita adalah perang,
Aku berdiri di cahaya, kau bersembunyi di balik bayang.
Kau, sang penjahat yang merobek hati wanita,
Menabur luka, memanen air mata dalam dusta.
Aku? Aku adalah penjaga yang setia pada satu rasa,
Menjaga hati lelaki seolah itu adalah nyawa.
Kau bercumbu dengan asap, merusak raga dengan sengaja,
Aku memilih sehat, demi menua dan mendonorkan raga.
Kau adalah tangan yang selalu menadah dan meminta,
Aku adalah punggung yang memikul, tangan yang memberi cinta.
Kau lari dari tanggung jawab seperti pengecut yang kalah,
Aku berdiri tegak.
Sialan, semesta ini memang suka melucu,
Memberi kita golongan darah yang menyatu.
Tapi dengarlah, hai semesta yang sedang mengejek:
Jika aku sekarat, biarkan aku mencari darah di tempat yang jauh.
Dan jika kau yang butuh, jangan harap setetes pun dariku akan luruh.
Jangan tanya mengapa seorang putri membenci ayahnya,
Tanyalah bagaimana sang ayah merobek martabat putrinya.
Aku bisa menerima segala perih, segala getir yang nyata,
Tapi menjadi pelacur? Itu adalah lubang hitam tanpa kata.
Judul itu... "Aku Menjadi Pelacur Karena Ayahku"?
Seandainya kehormatanku tak kau gadaikan dalam kelam,
Mungkin masih ada ruang untuk maaf di dalam malam.
Dunia mungkin menuntutku menjadi suci,
Menyuruhku memaafkan demi ketenangan hati.
Tapi aku berdoa pada semesta: jangan jadikan aku orang suci itu.
Biarkan dendam ini tetap membara, tetap beku.
Untuk semua orang, pintu maafku telah
terbuka lebar,
Tapi untukmu, pintunya telah kutebas, hancur terbakar.




